Komunikasi Tiada Henti

 



“Ayo berbaris duduk yang rapi, tenang jangan berebut” ucap Kyai Margi Slamet. Selesai memimpin doa sholat witir dan memandu niat puasa Ramadhan, pak kyai dikerubuti anak – anak yang minta tanda tangan sebagai bukti bahwa mereka telah mengikuti sholat isya’ dan sholat tarawih di masjid jami’ desa. Dengan sabar dan telaten melayani anak – anak dan memang tanda tangannya hanya di butuhkan ketika bulan ramadhan saja. Karena kegiatan sehari hari Kyai di sawah dan kebunnya tentu saja yang dipegang adalah gagang pacul dan sabit. Tidak ketinggalan alat komunkasi selalu menyertai.

Senyum sumringah kyai Slamet menandakan ketenangan dan kebahagiaan hidupnya, apalagi di pada bulan ramadhan ini ramai masjidnya, tidak seperti 2 tahun kebelakang yang harus taat peraturan protokol kesehatan covid19. Tentu saja masjid tetap buka seperti biasanya saat pandemi dengan shaf renggang. Dia menghirup udara dengan nafas yang dalam tanpa saringan masker yang menyesakkan mulut dan dada nya. Jadikan Setiap Tarikan Nafas kita sebagai Dzikir. Alhamdulillah. “Pulpen ne sopo iki ketinggalan” ucap kyai slamet agak kencang, karena lupa setelah tanda tangan pulpen masih dipegang, “artis tahunan” gumamnya.

Kyai Margi Slamet bersyukur dan senang anak – anak mau datang ke masjid, pulang bersama sama hingga selesai sholat tarawih dan sholat witir. Meskipun itu dikarenakan ada tugas dari Guru Agama nya di Sekolah. Namun itu adalah pembelajaran yang harus terus di tanamkan kepada generasi Islam. Kerjasama yang baik antara Guru Agama, tokoh masyarakat dan orang tua adalah pilar pendidikan karakter bagi anak didik. Karena mereka memiliki sifat imitatif yang kuat, maka perlu di ciptakan lingkungan yang baik dimulai dari keluarga, masyakat serta lingkungan di sekolah.

Dengan adanya teknologi digital, “komunikasi Guru Agama dengan orang tua siswa sangat mudah dilakukan dalam rangka memantau keaktifan sholat, mengaji serta belajar dirumah”. Kyai Slamet sudah tidak pernah lagi membawa alat komunikasi ketika ke masjid, khawatir menganggu ke khusyu’an dan ke ikhlas an saat ibadah dawuh beliau.  Dan Perlu di imitasi ditiru. Ketika di masjid menjaga koneksi komunikasi dengan illahi rabbi yang lebih utama daripada selfi, Imbuhnya.

Selamat ber hari jum’at di bulan ramadhan, sayyidul ayyam, sahrul mubarok.

 

Jum’at, 2 Ramadhan 1444 H

Cak_yus Pengawas PAI Kab. Tulungagung

 

Comments

  1. Tulisan yang indah dan bergizi dari Cak Kaji Yus....TOP.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

GONDOSULI PARK. BERSYUKUR MENJADI MAKMUR

Gravitasi dan Bedug

Pawai Ta'aruf Ramadlan setelah Covid19