Gravitasi dan Bedug


 

Bangun pagi yang tidak seperti hari biasanya, satu jam sebelum sholat subuh. Suara dan aroma dari dapur meng aktifkan panca indra untuk segera menuju tempat air agar lebih cepat akselerasi dalam aktifitas pagi hari. Air selalu ada dalam setiap langkah hidup dan ibadah kita, meskipun awal di syariatkan mengunakan air ditempat yang sangat terbatas air nya. Makan sahur terasa berat bagi waladi azzam karena gravitasi kuat dari tempat tidur, maka air adalah solusi. Dengan tetesan air wudhu di mata membantu mengirup menu kesukaannya. Ayam goreng.

Suara bedug mengelegar dengan pukulan pukulan kyai margi slamet, meski sudah ada speaker untuk adzan sebagai penanda masuknya sholat, “kurang afdlol rasanya kalo tidak ada pendahuluan suara bedug” ujarnya. Karena sebelum ada listrik masuk desa ini, bedug adalah satu satunya alat komunikasi jamaah ke masjid. Dan beliau akan sangat berhati hati kala pukulan bedug saat maghrib tiba di bulan ramadhan seperti saat ini, dan masih banyak orang di desa menunggu suara bedug untuk berbuka meski alarm adzan sudah di ada.

Berjalan menyusuri rimbunnya pohon di sekitar rumah dan jalan menuju masjid, seakan mereka menyapa langkah waladi yang tidak berani berangkat sendiri jika subuh hari. Udara terasa dingin dan berkabut karena tadi sore hujan deras disertai angin kencang. Meski jarak masjid hanya 3 rumah, namun halaman luas serta ada rumah tua yang sudah 10 tahun tidak berpenghuni kosong, rumah dari kakek buyut waladi, juga ada kandang sapi tetangga dengan 42 ekor dengan sanitasi nya membuat seperti berjalan dua blok dalam gang. Itu semua dilalui untuk menuju gravitasi masjid, dengan dentuman suara bedug dari kyai margi.

Perjalanan menuju masjid seperti yang di ajarkan guru agama waladi, dihitung setiap langkahnya sebagai pahala kebaikan. Juga dianjurkan untuk beda jalan berangkat dan pulangnya, namun waladi dijalan sama karena jika beda akan semakin jauh perputarannya. Ternyata dawuh dari guru agama nya di sekolah lebih diperhatikan dan di ingat, orang tua dirumah hanya memberikan contoh aplikasi pelajaran yang sudah diajarkan guru nya di sekolah.

Menjadi guru adalah ladang kebaikan yang telah dihamparkan, tanam sebanyak – banyaknya bibit unggul, rawat, suburkan maka panen raya akan menyapa dalam kesendirian alam baka. Anak didik telah siap datang mendengar dawuh, arahan dan petunjuk dari guru. Bersyukurlah di taqdirkan menjadi seorang guru. Menuju gravitasi masjid perlu energi dan asupan gizi motivasi dari Guru PAI.

 

3 Ramadhan 1444 H, Sabtu. 25 Maret 2023

Cak_yus. Pengawas PAI Kab. Tulungagung

 

 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

GONDOSULI PARK. BERSYUKUR MENJADI MAKMUR

Pawai Ta'aruf Ramadlan setelah Covid19